Solusi Ciswak Rumah Pembawa Sial


Sebidang tanah untuk mendirikan rumah harus diketahui bentuk dan auranya. Bentuknya bagus atau jelek, auranya panas atau dingin. Tanah bekas kuburan, lokasi bekas pembunuhan, tanah bekas ditanami tumbal,tanah yang di dalamnya terpendam benda-benda pusaka, tanah bekas parit atau sungai, tanah sengketa, tanah hasil rampasan, bekas tempat jagal hewan, dan bekas pembuangan sampah, tidak baik untuk membangun rumah. Sedangkan arah hadap rumah harus sesuai dengan jati diri pemilik atau kepala rumah tangga. Jati diri ini berkaitan dengan shio, elemen shio, weton, dan wuku. Masalahnya, seringkali karena keterbatasan kemampuan, orang harus menempati sebuah rumah apa adanya. Jauh dari syarat-syarat di atas. Bila hal ini terjadi, terutama untuk tanah yang buruk, sebuah rumah tetap bisa ditempati dengan mengadakan penyucian atau selamatan terlebih dulu. Sebuah selamatan yang ditujukan pada dewa bumi dan selamatan untuk diri sendiri. Dengan nasi kuning lengkap untuk dewa bumi dan nasi tumpeng kuning/putih untuk diri sendiri.
Selain selamatan, ada lagi beberapa solusi atau ciswak yang bisa dilakukan untuk menyiasati rumah pembawa sial. Solusi pertama, berasal dari beberapa tanaman atau pohon pembawa tuah, seperti: jambu dersono, setigi, walisongo, kepel, pinang merah, kemuning jawa, cempaka mulya, dan jeruk kimkit. Pohon-pohon ini mempunyai tuah, mampu beradaptasi dengan mahluk hidup di dalam tanah. Caranya, dengan meletakkan ikatan potongan batang pohon-pohon tersebut di dalam rumah. Panjang batang sekitar 50 sentimeter yang diambil dari batang pokok yang berada sekitar 1 meter di atas tanah. Masih ada lagi tanaman yang mampu meredam aura panas yang keluar dari tanah. Tanaman tersebut adalah jagung jali, sebuah tanaman yang memiliki buah mirip biji tasbih. Namun untuk memanfaatkannya, caranya berbeda dengan delapan tanaman di atas. Cukup dengan 1 atau 2 pohon jagung jali yang dibiarkan tumbuh selama 3 tahun, tanah yang panas bisa menjadi netral.

Solusi berikutnya berupa air laut dari 4 penjuru mata angin, misalnya dari Selat Bali, Selat Sunda, Laut Utara, dan Laut Selatan. Air tersebut sebaiknya diambil yang berada agak jauh dari pantai. Masing-masing penjuru diambil sebanyak 5 liter. Kemudian dicampur dan dimasukkan dalam satu wadah, jerigen misalnya. Ke dalam jerigen juga dimasukkan segumpal tanah halaman rumah yang diambil dari kedalaman 50 centimeter. Jerigen tersebut kemudian ditutup dengan kasa dan diletakkan di bagian rumah manapun. Tutup kasa berguna agar hawa campuran tanah dan air laut tersebut bisa menyebar ke setiap penjuru rumah. Hawa ini akan menolak hawa-hawa buruk di dalam rumah, terutama yang berasal dari tanah.

Solusi terakhir adalah lonceng angin. Bisa yang berbahan bambu, logam, dan lainnya. Yang penting, benda yang dapat mengeluarkan bunyi ketika tertiup angin ini, harus berisi 5 batang padat bukan lubang. Lonceng angin yang dipasang di depan rumah, dipercaya mampu meredam hawa-hawa tidak baik.

< Info Unik & Misteri

Bagikan artikel ini di: