PRIMBON, RAMALAN HANTU, GAIB UNIK, MISTERI KONSULTASI HUBUNGI KAMI

Cek Weton Jawa dan Horoskop Jawa Lengkap: Membaca Watak dari Tanggal Lahir


Untuk mengecek detail pengaruh Pranata Mangsa terhadap diri Anda, masukkan:

Tgl. Lahir

Mengungkap Misteri Pranata Mangsa dalam Horoskop Jawa: Kekuatan Gaib di Balik Alam Semesta
Masyarakat Jawa sejak lama memandang tanggal lahir sebagai petunjuk awal untuk mengenali seseorang. Hari kelahiran dipakai untuk memilih nama, menentukan waktu hajatan, hingga menimbang kecocokan pasangan. Tradisi ini masih hidup sampai sekarang, meski tidak semua orang hafal weton sendiri, apalagi memahami uraian watak yang menyertainya.

Halaman ini menghadirkan aplikasi cek weton berdasarkan tanggal lahir yang menampilkan uraian sifat dan karakter dari tiga sudut pandang: weton, mangsa, dan wuku. Seluruh uraian disusun berdasarkan buku Horoskop Jawa: Misteri Pranata Mangsa 647 halaman karya Ki Hudoyo Doyodipuro, Occ. Berikut ini menjelaskan cara kerja ketiganya agar hasil yang Anda baca dapat dipahami dengan baik.

Pengertian Weton Jawa

Kata weton berasal dari "wetu" yang berarti keluar atau lahir. Weton adalah perpaduan hari dan pasaran pada saat seseorang dilahirkan. Hari mengikuti urutan Minggu sampai Sabtu, sedangkan pasaran terdiri atas lima nama, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Perpaduan tujuh hari dan lima pasaran menghasilkan 35 kombinasi, dan satu putaran penuhnya disebut selapan. Dengan demikian, weton seseorang kembali jatuh setiap 35 hari. Di sejumlah keluarga, hari itu diperingati dengan selamatan sederhana sebagai wujud syukur.

Neptu, Nilai dalam Setiap Weton

Setiap hari dan pasaran memiliki nilai angka yang disebut neptu. Jumlah keduanya dipakai sebagai dasar menafsirkan watak maupun menghitung kecocokan. Berikut daftar nilainya.

HariNeptuPasaranNeptu
Minggu5Legi5
Senin4Pahing9
Selasa3Pon7
Rabu7Wage4
Kamis8Kliwon8
Jumat6
Sabtu9

Sebagai contoh, Kamis Kliwon bernilai 8 + 8 = 16, sedangkan Selasa Legi bernilai 3 + 5 = 8. Angka ini baru bermakna jika dibaca bersama karakter hari dan pasarannya, bukan sebagai penentu tunggal.

Perlu diketahui pula bahwa dalam hitungan Jawa tradisional, pergantian hari terjadi ketika matahari terbenam, bukan pada tengah malam. Bayi yang lahir setelah magrib karena itu kadang dihitung sebagai hari berikutnya. Bagi yang lahir pada jam-jam tersebut, ada baiknya membandingkan hasil dua tanggal yang berdekatan.

Pranata Mangsa: Kalender Alam Para Petani

Pranata mangsa adalah penanggalan musim yang mengikuti peredaran matahari. Para petani Jawa memakainya untuk menentukan masa tanam, masa panen, dan masa menunggu hujan. Dalam setahun terdapat 12 mangsa dengan lama berbeda-beda, antara 23 hingga 43 hari.


Ki Hudoyo Doyodipuro mengembangkan pembagian musim ini menjadi horoskop. Pandangan dasarnya adalah bahwa kondisi alam pada saat seseorang lahir ikut mewarnai perangai dan jalan hidupnya. Seseorang yang lahir pada mangsa kalima, misalnya, akan memperoleh uraian yang berbeda dari mereka yang lahir pada mangsa kasa.

Isi Uraian Watak Berdasarkan Mangsa

Bagian inilah yang paling lengkap di dalam aplikasi. Setiap mangsa dijabarkan ke dalam sejumlah aspek kehidupan:


Cakupan seluas ini membuat uraian terasa lebih utuh dibandingkan ramalan singkat satu atau dua paragraf. Pembaca dapat melihat gambaran dirinya sejak kecil hingga dewasa, lengkap dengan saran praktis yang bisa dipertimbangkan.

Wuku, Siklus 210 Hari

Sistem ketiga adalah wuku. Satu siklus wuku berlangsung 210 hari dan terdiri atas 30 wuku, masing-masing berumur tujuh hari. Setiap wuku memiliki watak, dewa penaung, dan pantangan tersendiri. Urutan ketiga puluh wuku tersebut adalah sebagai berikut.

1. Sinta2. Landep3. Wukir4. Kurantil5. Tolu
6. Gumbreg7. Warigalit8. Wariagung9. Julungwangi10. Sungsang
11. Galungan12. Kuningan13. Langkir14. Mandasiya15. Julungpujud
16. Pahang17. Kuruwelut18. Marakeh19. Tambir20. Medangkungan
21. Maktal22. Wuye23. Manahil24. Prangbakat25. Bala
26. Wugu27. Wayang28. Kulawu29. Dukut30. Watugunung

Wuku jarang dibahas di situs cek weton pada umumnya, padahal ia memberi sudut pandang tambahan yang berbeda dari hitungan 35 hari maupun hitungan musim. Siklusnya yang panjang membuat dua orang dengan weton sama bisa jatuh pada wuku yang berlainan.

Keunggulan Membaca Tiga Sistem Sekaligus

Weton menggambarkan karakter dari hari dan pasaran lahir. Mangsa menggambarkan pengaruh musim dan keadaan alam. Wuku menambahkan lapisan dari siklus 210 hari. Ketika ketiganya dibaca berdampingan, hasilnya lebih berlapis dan lebih personal.

Dua orang yang sama-sama lahir pada Kamis Pon, misalnya, dapat memperoleh uraian yang berbeda karena mangsa dan wukunya tidak sama. Perbedaan inilah yang membuat horoskop Jawa lengkap terasa lebih spesifik daripada ramalan weton yang bersifat umum.

Langkah Menggunakan Aplikasi


Seluruh konversi dari tanggal Masehi ke penanggalan Jawa dikerjakan otomatis. Anda tidak perlu membuka kalender Jawa atau menghitung neptu secara manual.

Menyikapi Hasil dengan Bijak

Horoskop Jawa adalah bagian dari warisan budaya dan kearifan lokal, bukan ilmu pasti. Belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa tanggal lahir menentukan watak atau nasib seseorang. Oleh sebab itu, hasil cek weton sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya dasar untuk keputusan penting seperti pernikahan, pindah pekerjaan, atau menjalankan usaha.

Meski demikian, uraian watak dapat berfungsi sebagai bahan refleksi diri. Kelebihan yang disebutkan bisa dijadikan modal untuk berkembang, sedangkan kelemahannya bisa dijadikan pengingat untuk lebih berhati-hati. Pendekatan seperti itu menjaga tradisi tetap bermanfaat tanpa membuat kita bergantung padanya.

Rujukan yang Digunakan

Aplikasi HOROSKOP JAWA ini dibuat berdasarkan buku setebal 647 halaman dengan judul "HOROSKOP JAWA - Misteri Pranata Mangsa" yang disusun oleh Bpk. Ki Hudoyo Doyodipuro, Occ.

Sebagai catatan, bahwa penyusun buku HOROSKOP JAWA ini pada tanggal 2 November 1998 telah mendapat sertifikat dari Menteri Negara Pariwisata, Seni dan Budaya, sebagai penyusun buku budaya yang baik.

Pada tanggal 20 Mei 2000, penyusun mendapat "Bintang Emas" penghargaan "PLKJ AWARD VIII" dari Pusat Lembaga Kebudayaan Jawa (PLKJ) di Surakarta.

Pada tanggal 19 Oktober 2001, dari Lembaga Parentah Keraton Surakarta Hadiningrat, penyusun mendapatkan anugerah gelar Kebangsawanan Riyo Nginggil dari S.I.S.K.S. PB.XII dengan sebutan Ki Kanjeng Raden Haryo Tumenggung (Ki KRHT) Hudoyodipuro.

Hal tersebut merupakan bukti bahwa menggali budaya lelulur atau nenek moyang kita adalah salah satu upaya positif untuk melestarikan kebudayaan bangsa, dan terbukti mendapat dukungan dari segala lapisan masyarakat, lembaga pemerintah ataupun lembaga swasta yang terkait.